Menyakitkan bila kita hanya jadi alternatif orang lain. Cuma opsi, dibutuhkan karena tidak ada pilihan terbaik. Tapi tidak mengapa banyak orang yang hidup bahagia dengan kondisi tersebut. Sepanjang kita terus membuktikan, sejatinya kita adalah prioritas pertama dalam hidup ini. Cepat atau lambat orang lain akan tahu hal tersebut. Tidak ada yang bisa dilupakan termasuk sekalipun kita memang tidak ingat lagi. Karena boleh jadi, disisi lain hal tersebut tetap diingat hingga kapan pun. Jika kita tidak bisa memahaminya dari sisi yang tidak ingat lagi, maka cobalah dari sisi yang hingga kapan pun tetap mengingatnya. Dengan demikian, semoga kita selalu menghormati perasaan-perasaan yang sempat bersinggungan dengan hidup kita. -TereLiye JOMBANG, 11 DESEMBER 2017
Postingan
Menampilkan postingan dari 2017
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Nyatanya, k ebersamaan pun sukar bersatu. Seribu hari saribu tahun akan sukar. Bagaimana, keseharian tak pernah di bubuhi rasa peduli. Ini jaman sekarang. Apa-apa individu, kelompok-kelompok geng. Sudah jarang terprogram setia. Diselang waktu hanya bertatap, nyata dan maya tak sejalan. Terikat persaudaraan, bukan. Tepatnya keterpaksaan. Terkekang. Mulut di belakang boleh jadi sebuah alat penguat. Terinjak celotehan. Kami tidak terima, tentu. Ketika ada berbilang, “Jangan bersedih, ketika mereka tertawakan kamu sekalian berbeda, tertawakan kembali mereka kenapa sama pula”. Senioritas boleh jadi diunggulkan. Terpaut keegoisan. Tetap saja, terbilang bersatu bergaris bawah sulit. Ada yang ucap, itu proses. Sebut percuma jika tak diiringi usaha dan do’a. Semoga senantiasa mendapat bimbing, pertolongan, dan ridho-Nya.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Bukan sebuah ambisi atau obsesi. ditengah terpuruknya hati, memang ada kejanggalan. Sejatinya, itulah yang membingungkan. Bukan juga apa-apa yang berasal dari sesal. harap emang tak selalu terkabul. Kadang, usaha memang masih kurang. Sudahlah. ego tinggi bisa jadi penghalang maju. Hanya berserah pada-Nya. meminta yang terbaik. Mulai memahami yang sudah semestinya. Enggan terungkap. Terlewat. Lagi, sama-sama belajar.