Nyatanya, kebersamaan pun sukar bersatu. Seribu hari saribu tahun akan sukar. Bagaimana, keseharian tak pernah di bubuhi rasa peduli. Ini jaman sekarang. Apa-apa individu, kelompok-kelompok geng. Sudah jarang terprogram setia. Diselang waktu hanya bertatap, nyata dan maya tak sejalan. Terikat persaudaraan, bukan. Tepatnya keterpaksaan.

    Terkekang. Mulut di belakang boleh jadi sebuah alat penguat. Terinjak celotehan. Kami tidak terima, tentu. Ketika ada berbilang, “Jangan bersedih, ketika mereka tertawakan kamu sekalian berbeda, tertawakan kembali mereka kenapa sama pula”. Senioritas boleh jadi diunggulkan. Terpaut keegoisan. Tetap saja, terbilang bersatu bergaris bawah sulit.

    Ada yang ucap, itu proses. Sebut percuma jika tak diiringi usaha dan do’a. Semoga senantiasa mendapat bimbing, pertolongan, dan ridho-Nya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

maret pertama

boleh aku rindu?

maret kedua